View Single Post
Old 23rd July 2012, 01:20
#363  
MrRyanbandung
Mania Member
MrRyanbandung is offline

Join Date: Mar 2012
Posts: 5,518
MrRyanbandung is a new comer

Default Teletext, kiat baru menjual tv tahun 1994

MENJUAL informasi itu kiat utama bisnis media massa, baik media cetak maupun elektronik. Karenanya, tidak salah kalau beberapa waktu sebelum itu, RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) memproklamirkan diri sebagai “Saluran Hiburan dan Informasi”. Proklamasi itu semakin dipertegas oleh RCTI pada 1994 dengan terobosannya mengadakan fasilitas teletext di salurannya. Langkah yang sama diikuti televisi pemerintah, TVRI, dengan menhadirkan TVRI-Text. Siaran teletext RCTI dimulai sejak akhir bulan April 1994, dan TVRI-Text mulai mengudara bertepatan dengan ulang tahun ke-32 TVRI, bulan Agustus 1994.



Untuk mengadakan fasilitas teletext, RCTI waktu itu bekerjasama dengan PT Amcol Graha, perwakilan Sony di Indonesia. Sementara TVRI sejak Januari 1994 menjalin kontrak kerja dengan PT Pilar Kumalajaya.



Persoalannya kemudian, harapan apa yang waktu itu ingin diwujudkan oleh TVRI dan RCTI dengan menghadirkan Teletext pada saluran mereka. Sebagai stasiun TV swasta, RCTI tentu tidak mau setiap rupiah yang dikeluarkannya akan hilang begitu saja tanpa memberi keuntungan yang berlipat ganda. Dan itu juga berlaku buat TVRI. Meskipun waktu itu TVRI menjadi televisi pemerintah yang tidak perlu “mati-matian” mencari uang sendiri, TVRI tetap harus berhitung dengan cermat untuk menambah pemasukannya.



Dengan tambahan investasi Rp 2 milyar, RCTI waktu itu tentu memiliki keyakinan teletext dapat mengembalikan modal itu, dengan memberikan keuntungan. Harapan itu tidak mustahil dapat terwujud. Manajer pengembangan bisnis RCTI, Jilal Mardhani, meskipun tidak secara tegas, mengakui hal tersebut.



“Ini bagian dari pelayanan terhadap pemirsa. Memang ada halaman teletext yang bisa dipakai untuk informasi komersial,” ujar Jilal. Informasi komersial yang ditempatkan pada halaman Seputar RCTI punya tarif sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu/halaman untuk penayangan selama satu pekan.



Sementara itu, Piranti Kumalajaya menanamkan sekitar Rp 3 milyar untuk mengadakan peralatan bagi TVRI-Text. Jumlah investasi seluruhnya, saat itu diperkirakan Rp 7 milyar hingga Rp 8 milyar. Selain itu, Piranti Kumalajaya waktu itu harus menyisihkan 15% dari pendapatannya untuk TVRI dalam kontrak kerja selama 30 tahun (1994-2024). Untuk mencakup dana yang sudah dikeluarkan, TVRI-Text saat itu akan memasang tarif informasi komersial Rp 200 ribu/halaman untuk setiap hari penayangan.



Persoalannya adalah seberapa besar belanja iklan yang dapat diraup oleh teletext. Pemasang iklan saat itu tentu saja akan memperhitungkan kelebihan dan kekurangan media ini sebelum memakainya sebagai sarana berpromosi. “Sebagai pengusaha yang bergerak di bidang retail, saya pengguna jasa advertising. Untuk memakai teletext, rasanya saya masih perlu tahu target audience yang bisa dijangkau. Kalau di koran, kita bisa perkirakan berdasarkan tirasnya,” tutur Gunawan, seorang pengusaha retail, waktu itu.



Tidak hanya masalah daya jangkau. Menurut Sumita Tobing, SH, Ph.D, staf ahli direktur TVRI, teletext memiliki kelemahan “tempat”. Tidak seperti koran atau majalah yang bisa dibaca di mana saja, dan mudah dibawa-bawa. Informasi teletext tidak bisa dilihat di sembarang tempat.



“Untuk melihat teletext, kita butuh pesawat televisi dan televisinya harus yang punya fasilitas teletext. Itu berarti hanya di tempat-tempat tertentu saja kita bisa menggunakannya. Selain itu, data teletext kan ada limit, jika dihapus oleh pihak stasiun televisi, maka pengguna tidak bisa membukanya lagi,” tutur Sumita yang sebelumnya pernah menjadi kepala siaran Bahasa Inggris TVRI.



RCTI saat itu melakukan updating dua kali sehari, yakni pukul 08.00 dan pukul 16.00 untuk berita baru yang sifatnya “biasa-biasa” saja. Sebuah data waktu itu paling lama akan disimpan dalam 3-4 hari, maksimal seminggu. Lewat dari tenggang waktu tersebut, data saat itu akan dihapus.



Pasar teletext memang sangat tergantung pada jumlah pengguna pesawat televisi yang memiliki fasilitas itu. Tidak semua pesawat televisi memiliki fasilitas teletext. Menurut Budiono, manager perencanaan produk dan manager promosi Amcol Graha, di Indonesia ketika itu hanya 20% pesawat televisi yang memiliki fasilitas teletext.



Biasanya pesawat televisi dalam ukuran besar (di atas 25 inch) yang memiliki fasilitas itu. Teletext bukanlah teknologi monopoli, karena fasilitas itu terdapat dalam berbagai merek pesawat. Di Indonesia misalnya, yang beredar di pasaran antara lain dari Toshiba, Telesonic, Polytron, Grundig, dan beberapa merek lain. Beberapa di antaranya, saat itu telah memberi fasilitas teletext pada televisi dengan ukuran 21 inch ke atas.



Teletext sendiri sebenarnya saat itu sudah bukan teknologi baru. Fasilitas tersebut dikenal sejak tahun 80an. Di beberapa negara Eropa dan Singapura, kehadiran teletext selama itu sangat berkaitan dengan perjudian. Sementara itu, di MTV Malaysia, teletext juga diisi dengan berita seputar musik.



Pertanyaan yang menggelitik, jika memang teknologi tersebut saat itu sudah lama dikenal, mengapa pesawat-pesawat televisi di Indonesia yang beredar sampai 1994, tidak dilengkapi dengan fasilitas tersebut. “Televisi yang diproduksi sebelum tahun 1992 untuk pasar Indonesia, memang tidak kita lengkapi dengan teletext. Fasilitas itu sendiri tidak akan dimanfaatkan karena belum ada stasiun televisi yang menayangkan,” tutur Femi Lestari, staf perencanaan produk Amcol Graha (perwakilan Sony di Indonesia).



Kerjasama Amcol Graha di RCTI, diakui atau tidak telah menjadi sebuah kiat pemasaran yang jitu. Seiring dengan diadakannya fasilitas teletext di RCTI, Sony memasarkan televisi dalam berbagai ukuran dalam fasilitas teletext. Sejak tahun 1992, Sony memproduksi televisi dengan fasilitas teletext (tidak hanya untuk ukuran besar), tetapi mulai dari 14 inch saat itu sudah dilengkapi teletext. Produk itu dipatok dengan harga mulai Rp 850.000 hingga Rp 17 juta, yaitu harga untuk ukuran 14 inch hingga 53 inch.



“Untuk pesawat televisi yang belum dilengkapi teletext memang bisa diberi fasilitas tambahan. Tapi, untuk saat ini kami belum sediakan, kami masih membuat yang built-in di TV-nya,” tambah Feni saat itu. Ketika itu diperkirakan, dengan diadakannya fasilitas teletext di TVRI dan RCTI, omzet penjualan ketika itu akan meningkat sebesar 15% hingga 20%.



Teletext yang biasanya disebut koran elektronik, adalah informasi dalam bentuk teks yang dipancarkan bersamaan dengan audio-visual tayangan televisi. Pengisian data yang saat itu akan disajikan dari kontrol teletext ke transmisi, hanya membutuhkan waktu 15 detik. Selain cepat, kelebihan lain dari teletext adalah dapat menyajikan informasi aktual secara berkala. Misalnya, informasi dari Bursa Efek Jakarta (BEJ). Jika ada perubahan informasi pada perdagangan di bursa tersebut, maka informasi yang disajikan teletext, saat itu akan turut berubah.



Kelemahan teletext, resolusi karakternya rendah dan sangat peka terhadap frekuensi yang diterima televisi. Selain bahwa teletext hanya dapat diterima selama stasiun televisi yang bersangkutan melakukan siaran.



Keberadaan teletext dimungkinkan, sebab pada dasarnya di setiap transmisi ada line yang kosong yang tidak termanfaatkan. Pada transmisi video berstandar PAL, misalnya, diperlukan 625 line untuk menghasilkan satu frame gambar. Dari jumlah itu, hanya dibutuhkan 575 line untuk membawa informasi gambar, sisanya 50 line berupa garis hitam tidak membawa informasi apapun, dan tidak tampak di layar TV.



Line yang tidak terpakai itu biasa disebut Vertical Blanking Interval (VBI) yang diperlukan agar gambar tetap stabil. Garis-garis VBI yang tidak membawa data atau informasi lain, karena itu tidak mengganggu gambar-gambar yang sedang ditayangkan, sehingga dapat digunakan untuk membawa data lain. Data inilah yang kemudian dikenal dengan teletext.



Dok. Kompas, 5 Juni 1994, dengan sedikit perubahan
Reply With Quote