View Single Post
Old 30th August 2017, 10:27
#25  
amethyst.purple
Addict Member
amethyst.purple is offline

Join Date: Dec 2016
Posts: 193
amethyst.purple Super Legendamethyst.purple Super Legendamethyst.purple Super Legendamethyst.purple Super Legendamethyst.purple Super Legendamethyst.purple Super Legendamethyst.purple Super Legendamethyst.purple Super Legendamethyst.purple Super Legendamethyst.purple Super Legendamethyst.purple Super Legend

Default

mumpung lagi produktif

Nada Beethoven symphony no 5 mulai mengalun. Suara sekitar yang awalnya riuh kini hening seketika. Tanpa sadar, tanganku terus memilin ujung kemeja yang tengah aku kenakan. Berharap dapatÂ* menetralkan rasa gugup dan degup jantung yang semakin kencang.


Itu dia, dia di sana. Dia atas panggung nan megah. Ribuan pasang mata melihatnya kini, panggung impian kami.


Dengan gemulai, tangan itu menggesek Stradivarius kesayangannya. Yang dulu adalah milikku.


Semua orang larut akan nada-nada yang mengalun indah dari Symphony no. 5 karya beethoven yang mendunia.


Sebuah karya yang menceritakan tentang kekalahan dan kemenangan, tentang pertarungan nasib manusia yang berlangsung seumur hidup, juga tentang penderitaan dan pembebasan dari kesengsaraan.


Aku tahu makna dari simfoni yang dia mainkan. Dia persembahkan untukku.


Dulu aku adalah seorang cellis. Namun sebuah kecelakaan membuat tanganku tak lagi bisa memainkan alat musik tersebut.


Aku terpuruk, duniaku seakan runtuh seketika. Impian konser di atas panggung yang megah pupus sudah.


Aku menjalani hidup dengan bermuram durja. Namun seseorang membantuku melawan keterpurukan itu.


Seseorang itu kini tengah berada di atas panggung, memainkan Stradivarius yang telah aku percayakan untuknya.


Tepukan gemuruh penonton membahana, saat alunan nada-nada yang dia mainkan telah usai.


Aku bangkit dari tempat dudukku, tak terasa air mata jatuh tanpa permisi.


Aku tersenyum bahagia, dan bertepuk tangan dengan antusias, menghiraukan rasa nyeri yang menjalar di sekitar pergelangan tanganku.


Dia membungkuk, memberi salam hormat pada semua penonton.


Saat mata kami beradu, dia tersenyum lembut padaku.


"I love you," lirihnya


"Me too, hubby."
Reply With Quote